7 Karakteristik Anak Usia Dini

AsikBelajar.Com | Berbeda dengan fase usia anak lainnya, anak usia dini memiliki karakteristik yang khas. Beberapa karakteristik untuk anak usia dini tersebut berikut (Hartati, 2005).

1. Memiliki Rasa Ingin Tahu yang Besar
Anak usia dini sangat tertarik dengan dunia sekitamya. Dia ingin mengetahui segala sesuatu yang terjadi di sekelilingnya. Pada masa bayi, ketertarikan ini ditunjukkan dengan meraih dan memasukkannya ke dalam mulut benda apa saja yang berada dalam jangkauannya. Pada anak usia 3-4 tahun, selain sering membongkar pasang segala sesuatu untuk memenuhi rasa ingin tahunya, anak juga mulai gemar bertanya meski dalam bahasa yang masih sangat sederhana. Pertanyaan anak usia ini biasanya diwujudkan dengan kata ‘apa’ atau “mengapa”. Sebagai pendidik, kita perlu memfasilitasi keingintahuan anak tersebut, misalnya dengan menyediakan berbagai benda atau tiruannya yang cukup murah untuk dibongkar pasang sehingga kita tidak merasa anak telah banyak merusak berbagai perlengkapan kita yang cukup mahal. Selain itu setiap pertanyaan anak perlu dilayani dengan jawaban yang bijak dan komprehensif tidak sekedar menjawab. Bahkan jika perlu, keingintahuan anak kita bisa merangsang dengan mengajukan penanyaan balik pada anak sehingga terjadi dialog menyenangkan, namun tetap imiah. Misalnya, dialog yang terjadi saat seorang anak usia 4 tahun bernama Dito menunjukkan hasil karya gambar sederhananya, seperti berikut ini.

7 karakter anak usia dini

2. Merupakan Pribadi yang Unik
Meskipun banyak terdapat kesamaan dalam pola umum perkembangan, setiap anak meskipun kembar memiliki keunikan masing-masing, misalnya dalam hal gaya belajar, minat, dan latar belakang keluarga. Keunikan ini dapat berasal dari faktor genetis (misalnya dniam hal ciri fisik) atau berasa! dari lingkungan (misalnya daiam hal minat). Dengan adanya keunikan tersebut. pendidik perlu melakukan pendekatan individual selain pendekatan

kelompok sehingga keunikan tiap anak dapat terakomodasi dengan baik. Misalnya, pada KB untuk kelompok anak usia 3 tahun terdapat minat yang berbeda-beda. Ani suka diajak menari atau menyanyi dan tubuhnya mudah mengikuti irama musik. Sedang Tono lebih suka mencoret-coret atau menggambar, dan Abdu lebih suka berjungkir balik atau memanjat pohon dibanding kegiatan lainnya.

3. Suka Berfantasi dan Berimajinasi
Anak usia dini sangat suka membayangkan dan mengembangkan berbagai hal jauh melampaui kondisi nyata. Anak dapat menceritakan berbagai hal dengan sangat meyakinkan seolah-olah dia melihat atau mengalaminya sendiri, padahal itu adalah hasil fantasi atau imajinasinya saja. Kadang, anak usia ini juga belum dapat memisahkan dengan jelas antara kenyataan dan fantasi sehingga orang dewasa sering menganggapnya berbohong. Fantasi adalah kemampuan membentuk tanggapan baru dengan pertolongan tanggapan yang sudah ada. Biasanya, anak-anak sangat luas dalam bcrfantasi. Mereka dapat membuat gambaran khayal yang luar biasa, misalnya kursi dibalik dijadikan kereta kuda, taplak meja dijadikan perahu, dan lain-Iain (Lubis, 1986). Sedang imajinasi adalah kemampuan anak untuk menciptakan suatu objek atau kejadian tanpa didukung data yang nyata (Ayah Bunda, 1992). Salah satu bentuk adanya proses imajinasi pada anak usia 3-4 tahun adalah munculnya teman imajiner. Teman imajiner dapat berupa orang, hewan atau benda yang diciptakan anak dalam khayalannya untuk berperan sebagai seorang teman (Hurlock, 1993). Teman imajiner ini tampil ‘dalam imajinasi anak lengkap dengan nama dan mampu melakukan segala sesuatu layaknya anak-anak. Oleh karena itu, anak usia 3-4 tahun sering kita dapati sedang berbicara sendiri, seolah-olah ada yang mengajaknya bicara. Saat anak mulai masuk sekolah, teman imajiner ini sedikit demi sedikit menghilang dari kehidupannya.

Fantasi dan imajinasi pada anak sangat penting bagi pengembangan kreativitas dan bahasanya. Oleh karena itu, selain perlu diarahkan agar secara perlahan anak mengetahui perbedaan khayalan dengan kenyataan; fantasi dan imajinasi tersebut juga perlu dikembangkan melalui berbagai kegiatan misalnya bercerita & mendongeng

4. Masa Paling Potensial untuk Belajar
Anak usia dini sering juga disebut dengan istilah golden age atau usia emas karena pada rentang usia ini anak mengaiami pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat pada berbagai aspek. Pada perkembangan otak misalnya, terjadi proses pertumbuhan otak yang sangat cepat pada 2 tahun pertama usia anak. Ketika lahir, berat otak bayi 1 350 gram, umur 3 bulan naik menjadi 500 gram dan pada umur 1,5 tahun naik lagi menjadi : lkg. Setelah bayi lahir, jumlah sel saraf tidak bertambah lagi karena sel saraf tidak dapat membelah diri lagi. Namun, juluran-julurannya mampu bercabang dan membuat ranting-ranting hingga usia lanjut. Bila ada rangsangan untuk belajar maka ranting dan cabang ini akan semakin rimbun. Tetapi bila tidak digunakan maka cabang-cabang tersebut justru akan menyusut. Jadi, pertumbuhan berat otak bukan karena bertambahnya jumlah sel saraf, tetapi karena tumbuhnya percabangan juluran (Markam, Mayza & Pujiastuti, 2003). Selain perkembangan otak, penelitian Gallahue (1993) menyatakan bahwa usiahsekolah merupakan waktu yang paling o’ptimal untuk perkembangan motorik anak. Sedang penelitian Bowlby (1996) menyatakan bahwa hubungian yang positif dan membangun pada anak usia dini sangat penting untuk perkembangan kognitif dan emosi sosialnya (Siskandar, 1993).

Oleh karena itu. usia dini terutama di bawah 2 tahun menjadi masa yang paling peka dan potensial bagi anak untuk mempelajari sesuatu. Pendidik perlu memberikan berbagai stimulasi yang tepat agar masa peka ini tidak terlewatkan begitu saja, tetapi diisi dengan hal-hal yang dapat mengoptimalkan tumbuh kembang anak.

5. Menunjukkan sikap egosentris
Egosentris berasal dari kata ego dan sentris. Ego artinya aku, sentris artinya pusat. Jadi, egosentris, artinya “berpusat pada aku”, artinya anak usia dini pada umumnya hanya memahami sesuatu dari sudut pandangnya sendiri, bukan sudut pandang orang lain. Anak yang egosentn’k lebih banyak berpikir dan berbicara tentang diri sendiri dari pada tentang orang lain dan tindakannya terutama bertujuan menguntungkan dirinya (Hurlock. 1993). Hal ini terlihat dari perilaku anak, misalnya masih suka berebut mainan, menangis atau merengek ketika keinginannya tidak terpenuhi, menganggap ayah dan ibunya adalah mutlak orang tuanya saja bukan orang tua dari adik atau kakaknya dan sebagainya. Setidaknya ada 3 bentuk egosentrisme, yaitu sebagai berikut (Ayah Bunda, l992).
a) Merasa superior, anak berharap orang lain akan memuji ‘sepak terjang’nya dan diberi peran sebagi pimpinan. Anak menjadi sok berkuasa (bossy), tidak peduli pada orang lain, tidak mau bekerja sama dan sibuk berbicara tentang dirinya sendiri.
b) Merasa inferior, anak akan memfokuskan semua permasalahan pada dirinya karena merasa tidak berharga di dalam kelompok. Anak inferior biasanya mudah dipengaruhi dan disuruh orang lain. Karena dia merasa perannya dalam kelompok sangat kecil maka anak inferior kadang bersikap egosentris.
c) Merasa jadi korban, anak merasa diperlakukan tidak adil sehinggz mudah marah pada semua orang. Keinginannya untuk berperan dalam kelompok sangat kecil sehingga akhirnya kelompok cenderun mengabaikan kehadirannya.

Egosentrisme pada anak ini baru merugikan bagi penyesuaian diri dan sosialnya jika terjadi berkelanjutan. Umumnya begitu anak mulai memasuki sekolah, egosemrisme sedikit demi sedikit mulai berkurang.

Jean Piaget. seorang ahli perkembangan anak memasukkan anak usia dini pada masa praoperasional (2-7 tahun). Salah satu ciri pada masa praoperasional ini adalah bersifat egosentris. Oleh kaxena itu, peran pendidik dalam hal ini adalah membantu mengtn’angi egosentrisme anak dengan berbagai kegiatan, misalnya mengajak anak mendengarkan cerita (story telling), melatih kepedulian sosial dan empati anak dengan memberi bantuan pada anak yatim atau korban bencana, memutar film tentang konflik kemanusiaan lalu dibahas bersama-sama, dan lain-lain.

6. Memiliki Rentang Daya Konsentrasi yang Pendek
Sering kali kita saksikan bahwa anak usia dini cepat sekali berpindah dari suatu kegiatan ke kegiatan yang lain. Anak usia ini memang mempunyai rentang perhatian yang sangat pendek sehingga perhatiannya mudah teralihkan pada kekuatan lain. Hal ini terjadi terutama apabila kegiatan sebelumnya dirasakan anak menarik perhatiannya lagi. Berg (1988) mengatakan bahwa rentang perhatian anak uasia 5 tahun untuk dapat duduk tenang memperhatikan sesuatu adalah sekitar 10 menit, kecuali untuk hal-hal yang membuatnya senang. Sebagai pendidik, kita perlu memperhatikan karakteristik ini sehingga selalu berusaha membuat suasana yang menyenangkan dalam mendidik mereka. Jika perlu ada pengarahan pada anak maka waktu untuk pengarahan tersebut sebaiknya kurang dari 10 menit.

7. Sebagai bagian dari makhluk sosial
Anak usia dini mulai suka bergaul dan bermain dengan teman sebayanya. la mulai belajar berbagi, mengalah, dan antri menunggu giliran saat bermain dengan teman-temannya. Melalui interaksi sosial dengan teman sebaya ini, anak terbentuk konsep dirinya. Anak juga belajar bersosialisasi dan belajar untuk dapat diterima di lingkungannya. Jika dia bertindak mau menang sendiri, teman-temannya akan segera menjauhinya. Dalam hal ini, anak akan belajar untuk berperilaku sesuai harapan sosialnya karena ia membutuhkan orang lain dalam kehidupannya.

Sumber:
Aisyah, Siti. 2008. Materi Pokok Perkembangan dan Konsep dan Pengembangnn Anak Usia Dini. Jakarta: Universitas Terbuka Departemen Pendidikan Nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Captcha loading...