6 Usaha Mengatasi Kesulitan Belajar ala Djamarah

AsikBelajar.Com | Dalam rangka usaha mengatasi kesulitan belajar tidak bisa diabaikan dengan kegiatan mencari faktor-faktor yang diduga sebagai penyebabnya. Karena itu, mencari sumber-sumber penyebab utama dan sumber-sumber penyebab penyerta lainnya mutlak dilakukan secara akurat, afektif dan efisien. …215

Secara garis besar, langkah-Iangkah yang perlu ditempuh dalam rangka usaha mengatasi kesulitan belajar anak didik, dapat dilakukan melalui enam tahap, yaitu pengumpulan data, pengolahan data, diagnosis, prognosis, treatment, dan evaluasi. Untuk jelasnya tahapan-tahapan dimaksud, ikutilah uraian berikut.

1. Pengumpulan Data
Untuk menemukan sumber penyebab kesulitan belajar diperlukan banyak informasi. Untuk memperoleh informasi perlu diadakan pengamatan langsung terhadap objek yang bermasalah. Teknik interviu (wawancara) ataupun teknik dokumentasi dapat dipakai untuk mengumpulkan data. Baik teknik observasi dan interviu maupun dokumentasi, ketiganya saling melengkapi dalam rangka keakuratan data. Usaha lain yang dapat dilakukan dalam usaha pengumpulan data bisa melalui kegiatan sebagai berikut:
a. Kunjungan rumah.
b. Case study.
c. Case history.
d. Daftar pribadi.
e. Meneliti pekerjaan anak.
f. Meneliti tugas kelompok.
g. Melaksanakan tes, baik tes IQ maupun tes prestasi.

Dalam pelaksanaannya, semua metode itu tidak meski digunakan bersama-sama, tetapi tergantung pada masalahnya, kompleks atau tidak. Semakin rumit masalahnya, maka semakin banyak kemungkinan metode yang dapat digunakan. Jika masalahnya sederhana, mungkin dengan satu metode sudah cukup untuk menemukan faktor apa yang menyebabkan kesulitan belajar anak. Dalam pengumpulan data tidak perlu mencari informasi sebanyak-banyaknya. Sebab setiap informasi yang diterima belum tentu data. Informasi yang simpang siur justru membingungkan. Oleh karenanya, yang betul adalah carilah banyak informasi melalui sumber yang tepat untuk mendapatkan data …216

2. Pengolahan Data
Data yang telah terkumpul tidak akan ada artinya jika tidak diolah secara cermat. Faktor-faktor penyebab kesulitan belajar anak didik jelas tidak dapat diketahui, karena data yang terkumpul itu masih mentah, belum dianalisis dengan saksama. Langkah-langkah yang dapat ditempuh dalam rangka pengolahan data adalah sebagai berikut.

a. Identifikasi kasus.
b Membandingkan antarkasus.
c. Membandingkan dengan hasil tes. d. Menarik kesimpulan.

3. Diagnosis
Diagnosis adalah keputusan (penentuan) mengenai hasil dari pengolahan data. Tentu saja keputusan yang diambil itu setelah dilakukan analisis terhadap data yang diolah itu. Diagnosis dapat berupa hal-hal sebagai berikut.

a. Keputusan mengenai jenis kesulitan belajar anak didik yaitu berat dan ringannya tingkat kesulitan yang dirasakan anak didik.
b. Keputusan mengenai faktor-faktor yang ikut menjadi sumber penyebab kesulitan belajar anak didik.
c. Keputusan mengenai faktor utama yang menjadi sumber penyebab kesulitan belajar anak didik.

Karena diagnosis adalah penentuan jenis penyakit dengan meneliti (memeriksa) gejala-gejalanya atau proses pemeriksaan terhadap hal yang dipandang tidak beres, maka agar akurasi keputusan yang diambil tidak keliru tentu saja diperlukan kecermatan dan ketelitian yang tinggi. Untuk mendapatkan hasil yang menyakinkan itu sebaiknya minta bantuan tenaga ahli dalam bidang keahlian mereka masing-masing. Di sini bisa disebutkan: …217

1. Dokter, untuk mengetahui kesehatan anak.
2. Psikolog, untuk mengetahui tingkat IQ anak.
3. Psikiater, untuk mengetahui kejiwaan anak.
4. Sosiolog, untuk mengetahui kelainan sosial yang mungkin dialami oleh anak.
5. Guru kelas, untuk mengetahui perkembangan belajar anak selama di sekolah.
6. Orang tua anak, untuk mengetahui kebiasaan anak di rumah.

Dalam prakteknya, tidak semua ahli di atas selalu harus digunakan secara bersama-sama dalam setiap proses diagnosis. Bantuan diperlukan tergantung pada kebutuhan dan tentu saja kemampuan yang tersedia di sekolah.

4. Prognosis
Keputusan yang diambil berdasarkan hasil diagnosis menjadi dasar pijakan dalarn kegiatan prognosis. Dalam prognosis dilakukan kegiatan penyusunan program dan penetapan ramalan mengenai bantuan yang harus diberikan kepada anak untuk membantunya keluar dari kesulitan belajar.

Dalam penyusunan program bantuan terhadap anak didik yang berkesulitan belajar dapat diajukan pertanyaan-pertanyaan dengan menggunakan rumus 5W + 1H.

a. Who : Siapakah yang memberikan bantuan kepada anak? Siapakah yang harus mendapat bantuan?

b. What : Materi apa yang diperlukan? Alat bantu apa yang harus dipersiapkan? Pendekatan dan metode apa yang digunakan dalam memberikan bantuan kepada anak?

c. When : Kapan pemberian bantuan itu diberikan kepada anak? Bulan yang ke berapa? Minggu yang ke berapa?

d. Where : Di mana pemberian itu dilaksanakan? …218

e. Which : Anak didik yang mana diprioritaskan mendapatkan bantuan lebih dahulu?

f. How : Bagaimana pemberian bantuan itu dilaksanakan? Dengan cara pendekatan individual ataukah pendekatan kelompok? Bentuk treatment yang bagaimana yang mungkin diberikan kepada anak?

5. Treatment
Treatment adalah perlakuan. Perlakuan di sini dimaksudkan adalah pemberian bantuan kepada anak didik yang mengalami kesulitan belajar sesuai dengan program yang telah disusun pada tahap prognosis. Bentuk treatment yang mungkin dapat diberikan adalah:

a. Melalui bimbingan belajar individual.
b. Melalui bimbingan belajar kelompok.
c. Melalui remedial teaching untuk mata pelajaran tertentu.
d. Melalui bimbingan orang tua di rumah.
e. Pemberian bimbingan pribadi untuk mengatasi masalah-masalah psikologis.
f. Pemberian bimbingan mengenai cara belajar yang baik secara umum.
g. Pemberian bimbingan mengenai cara belajar yang baik sesuai dengan karakteriktik setiap mata pelajaran.

Siapakah yang mendapat prioritas memberikan treatment? Hal tergantung pada bidang garapan yang telah diprogramkan. Bila dalam program, ternyata yang harus diatasi terlebih dahulu adalah penyembuhan penyakit kanker yang diderita oleh anak, maka masalah itulah yang harus ditangani. Bantuan dokter dalam masalah ini sangat diperlukan, untuk mengobatinya, agar penyakit kanker anak itu dapat disembuhkan dalam waktu yang relatif segera. Karena masalah itu dianggap berat dan guru bukan ahlinya. Tetapi bila kesulitan belajar itu menyangkut mata pelajaran tertentu, fiqih, kimia …219

atau bahasa Arab, misalnya tidak perlu meminta bantuan dokter atau sosiolog, guru untuk masing-masing mata pelajaran itupun sudah bisa memberikan bantuan kepada anak didik. Demikianlah, sesuai keahlian seseorang.

Ketepatan treatment yang diberikan kepada anak didik yang mengalami kesulitan belajar sangat tergantung kepada ketelitian dalam pengumpulan data, pengolahan data, dan diagnosis. Tapi bisa juga pengumpulan datanya sudah lengkap dan pengolahan datanya dengan cermat, tetapi diagnosis yang diputuskan keliru, disebabkan kesalahan analisis, maka treatment yang diberikan kepada anak didik yang mengalami kesulitan belajar pun tidak akurat. Oleh karenanya, kecermatan dan ketelitian tingkat tinggi sangat dituntut dalam pengumpulan data, pengolahan data, dan diagnosis, sehingga pada akhirnya treatmen benar-benar mengenai objek dan subjek persoalan.

6. Evaluasi
Evaluasi di sini dimaksudkan untuk mengetahui apakah treatment yang telah diberikan berhasil dengan baik. Artinya ada kemajuan, yaitu anak dapat dibantu keluar dari lingkaran masalah kesulitan belajar, atau gagal sama sekali. Kemungkinan gagal atau berhasil treatment yang telah diberikan kepada anak, dapat diketahui sampai sejauh mana kebenaran jawaban anak terhadap item-item soal yang diberikan dalam jumlah tertentu dan dalam materi tertentu melalui alat evaluasi berupa tes prestasi belajar atau achievement test. Bila jawaban anak sebagian besar banyak yang salah, itu sebagai pertanda bahwa treatment gagal. Karenanya, perlu pengecekan kembali dengan cara mencari faktor-faktor penyebab dari kegagalan itu. Ada kemungkinan data yang terkumpul kurang lengkap, program yang disusun tidak jelas dan tepat, atau diagnosis yang diambil tidak akurat karena kesalahan membaca data, sehingga berdampak langsung pada treatment yang bias. Kemungkinan lain bisa juga terjadi. Datanya lengkap, pengolahan datanya dengan cermat dan teliti, …220

akurasi diagnosis meyakinkan, dan prognosis dengan jelas dan sistematis, tetapi karena treatment yang diberikan kepada anak yang mengalami kesulitan belajar tidak sungguh-sungguh, terkesan asal-asalan, juga menjadi pangkal penyebab gagalnya usaha mengatasi kesulitan belajar anak.

Agar tidak terjadi kesalahan pengertian, di sini perlu ditegaskan bahwa pengecekan kembali hanya dilakukan bila terjadi di kegagalan treatment berdasarkan evaluasi, di mana hasil prestasi belajar anak didik masih rendah, di bawah standar. Dalam rangka pengecekan kembali atas kegagalan treatment, secara teoretis langkah-langkah yang perlu ditempuh adalah sebagai berikut.

a. Re-ceking data (baik yang berhubungan dengan masalah pengumpulan maupun pengolahan data).
b. Re-diagnosis.
c. Re-prognosis.
d. Re-treatment.
e. Re-evaluasi.

Bila treatment gagal harus diulang. Kegagalan treatment yang kedua harus diulangi dengan treatment berikutnya. Begitulah seterusnya sampai benar-benar dapat mengeluarkan anak didik dari kesulitan belajar. Tetapi bila gagal dan selalu adalah kebodohan. Itu jangan sampai terjadi. Sebab satu masalah belum selesai, maka masalah lain masih menunggu untuk ditangani.

Sebagai ringkasan mengenai langkah-langkah usaha mengatasi kesulitan belajar anak seperti telah diuraikan pada bagian terdahulu, maka dibuatkan bagan seperti terlihat pada halaman berikut. 221

Mengatasi Kesulitan Belajar
Sumber:
Djamarah, Syaiful Bahri, 2000. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta. Hal.215-222.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *