5 lmplikasi Metode Discovery Learning

By | 30/03/2020

AsikBelajar.Com | lmplikasi dari penerapan metode discovery learning banyak mengubah tatanan kelas dan pendidikan. Menurut Bruner (1969), sejumlah saran yang spesifik bagi praktik edukasional dalam aplikasi metode yang discovery oriented, meliputi hal-hal sebagai berikut:Metode discovery learning1) Kurikulum suatu objek hendaklah ditentukan oleh pemahaman yang paling fundamental bahwa hal itu dapat dicapai dengan prinsip-prinsip dasar yang memberikan struktur pada subjek itu. Pengetahuan mengenai prinsip-prinsip dasar dan struktur suatu subjek dapat memfasilitasi pembentukan sistem-sistem coding yang generic jika didasarkan pada prinsip-prinsip pengorganisasian. Dikemukakan oleh Bruner bahwa jika kurikulum tidak terorganisasi guna memungkinkan pembentukan struktur (system-system coding) maka bahan yang dipelajari akan sulit tak membawanya pada transfer, dan akan sulit diingat.

2) ”…tiap subjek dapat diajarkan kepada seseorang anak dalam bentuk yang jujur (honest form)”. Lawan-lawan Bruner segera menyatakan bahwa tak satu pun subjek dapat diajarkan pada tiap usia. Umpamanya proportion mungkin tak dapat dipahami oleh seorang anak umur 4 tahun. Jawaban Bruner ialah statement itu perlu direintrepetasi dan dikaji dalam artian kemungkinan …119

mengenai aspek-aspek mengajar suatu subjek pada suatu tingkat usia. Mungkin beberapa aspek proportion dapat diajarkan kepada anak usia 4 tahun. Pertanyaan yang penting ialah bagaimana mengajarkan dapat dibuat efektif bagi anak-anak yang sangat muda usia? Jawaban Bruner, bahwa bentuknya dapat disimplifikasikan, misalnya representasi motorik atau sensorik (enactive) kerepresentasi dalam bentuk yang relative concrete images (iconic) sampai akhirnya representasi secara abstrak (symbolic) merupakan sekuensi dalam mengajar. Dengan perkataan lain, suatu subjek dapat disajikan sedemikian rupa sehingga anak pertama-tama dapat mengalaminya, kemudian beranjak ke presentasi secara konkret, dan akhirnya mensimbolisasikannya sebagai sekuensi instruksional yang paling baik.

3) Suatu kurikulum spiral yang mengembangkan dan mengembangkan kembali (redevelops) topik-topik pada tingkat-tingkat yang berbeda merupakan kurikulum ideal bagi penguasaan kode-kode generic. Bruner menyetujui bahwa kurikulum Spiral rupanya ideal bagi pengembangan system-sistem coding. Ulangan (repetition) tidak hanya perlu, tetapi juga perlu organisasi bahan pelajaran secara saksama dalam artian prinsip-prinsip dan progesi karakteristik datn pemecahan yang paling simple ke pemahaman yang paling kompleks, pararel dengan perkembangan ideal dari suatu system coding. Mulai …120

dengan pelajar diekspos pada konsep-konsep itu, ia secara progresif diekspose pada tingkat yang lebih tinggih pada konsep-konsep yang lebih general. Secara teoretis, hasilnya merupakan pembentukan struktur, yaitu yang kondusif bagi transfer, recall dan discovery.

4) ”…Murid harus diberikan suatu latihan dalam rekognisi plausibility of guesses (menebak yang kemungkinannya benar)”. Dalam hubungan ini, Bruner berbicara tentang intuitive leap (dadakan intuitif) suatu tebakan pintar (educated guess) yang lebih didasarkan pada prediksiprediksi berdasarkan apa yang diketahui tentang hal-hal yang similar. Suatu intuitive leap tebakan mendadak janganlah dihalangi. Menurut Bruner, tebakan yang dihalangi (discourage guising) sama dengan mematikan proses discovery.

5) Alat-alat bantu mengajar (audiovisual, dan Iainnya) haruslah diusahakan. Alasan untuk mendukung rekomendasi ini ialah bahwa alat-alat bantu audiovisual (audiovisual aids) memberikan murid-murid pengalaman langsung atau pengalaman-pengalaman vicarious (pengganti), dank arena itu memfasilitasi pembentukan konsep-konsep. Hal ini secara langsung berhubungan dengan saran Bruner bahwa sekuensi instruksional paling baik adalah sekuensi yang berproses seperti apa yang dipelajari anak untuk merepresentasikan dunianya yaitu dari enactive ke iconic, dan akhirnya ke symbolic. …121.

Sumber:
Cahyo, Agus N. 2013. Panduan Aplikasi Teori-Teori Belajar Mengajar Teraktual dan Terpopuler. Diva Press: Yogyakarta.Hal. 119-121.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *