15 Point Penting tentang DAP

By | 03/09/2020

AsikBelajar.Com | Lima belas item ini adalah merupakan rangkuman dari bahasan yang berhubungan dengan DAP atau Developmentally Appropriate Practice. 15 point penting tersebut adalah sebagai berikut:

1. DAP atau Developmentally Appropriate Practice adalah konsep pendidikan yang sesuai dengan perkembangan anak, yang diperkenalkan oleh para praktisi pendidikan dipelopori oleh Bredekamp. DAP terdiri dari tiga dimensi utama, yaitu sebagai berikut.
a. Sesuai dengan usia.
b. Sesuai dengan individu anak yang unik
c. Sesuai menurut lingkungan sosial budaya
Menurut Kostelnik, Soderman dan Whiren, DAP terdiri dari tiga prinsip utama, yaitu sebagai berikut.
a. Memperhitungkan bagaimana anak belajar dan berkembang
b. Mempertimbangkan keunikan dari tiap anak.
c. Menunjukkan kepedulian yang tinggi pada perbedaan kapasitas belajar tiap anak.

2. Konsep DAP sangat sesuai dengan berbagai teori maupun hasil riset tentang pendidikan anak, antara lain: teori Piaget tentang perkembangan kognitif, teori Erik Erikson tentang perkembangan emosi, teori Vygotsky tentang sosio-kultural, teori Gardner tentang kecerdasan majemuk, teori Kohlberg dan Thomas Lickona tentang perkembangan moral, dan teori Bronfenbrenner tentang ekologi dan kontekstual, serta basil riset tentang belajar berdasarkan cara kerja otak (brain based learning).

3. Teori Lickona merupakan penyempurnaan dari teori Kohlberg, yang membagi tahapan perkembangan moral manusia menjadi empat fase berikut.
a) Fase bepikir egosentris (self-oriented morality), usia 1 sampai 4/5 tahun.
b) Fase patuh tanpa syarat (authorin-oriented morality), usia 4/5 sampai 6 tahun
c) Fase balas-membalas (exchange stage), usia 6,5 sampai 8 tahun.
d) Fase memenuhi harapan lingkungan (peer-oriented morality), usia 8 sampai 13/14 tahun.

4. Teori Bronfenbrenner membahas tentang ekologi dan kontekstual yang dapat mempengaruhi perkembangan anak, yaitu sebagai berikut.
a. Konteks mikrosistem, terdiri dari keluarga, sekolah dan temantemannya.
b. Konteks mesosistem, yaitu hubungan antara keluarga dengan sekolah, sekolah dengan sekelompok anak sebaya atau keluarga dengan sekelompok anak sebaya.
c. Konteks eksosistem, yaitu hal-hal yang ada di sekitar anak yang dapat mempengaruhi anak tersebut.
d. Konteks makrosistem, yaitu kondisi global di mana anak tersebut hidup, berupa lingkungan sosial, budaya dan agama.

5. Teori Bronfenbrenner ini sangat berguna untuk mengetahui faktor pelindung atau faktor penghambat dalam lingkungan sosial yang dapat mempengaruhi perkembangan anak.

6. Hasil riset tentang cara belajar berdasarkan cara kerja otak (brain based learning) menyimpulkan beberapa prinsip, yaitu sebagai berikut.
a. Otak memproses beberapa aktivitas dalam waktu bersamaan.
b. Otak memproses informasi secara keseluruhan dan secara bagian per bagian dalam waktu bersamaan (simultan).
c. Proses belajar melibatkan seluruh aspek fisiologi manusia, tidak aspek tertentu saja.
d. Otak selalu mencari makna atau arti informasi yang diterimanya secara alami, khususnya informasi yang bermakna atau berkesan.
e. Faktor emosi mempengaruhi proses belajar.
f. Motivasi belajar akan meningkat bila diberikan sesuatu yang menantang, dan akan terhambat jika diberikan ancaman.
g. Seseorang akan lebih mudah mengerti dengan diberikan fakta secara alami atau melalui ingatan spasial (keruangan).

7. Prinsip-prinsip brain based learning tersebut mendasari perubahan metode belajar yang sesuai dengan konsep DAP, yaitu sebagai berikut.
a. Menciptakan lingkungan belajar yang dapat membuat anak asyik belajar.
b. Menggunakan kurikulum yang dapat menumbuhkan minat anak terhadap conten belajar secara kontekstual.
c. Mengupayakan suasana belajar yang aman dan menyenangkan, bebas dari tekanan dan ancaman, namun tetap memberikan tantangan.
d. Menyampaikan materi belajar dengan melibatkan pengalaman konkret, terutama melalui pemecahan masalah.

8. Pada manusia, ada tiga bagian otak yang saling mempengaruhi proses belajar seseorang, tergantung bagian otak mana yang memegang kendali pada saat itu. Bagian-bagian otak tersebut adalah sebagai berikut.
a. Batang otak (brainstem), bersifat ’menyerang atau mempertahankan diri’. Pengaruh bagian ini akan dominan bila seseorang merasa terancam, takut atau sedih.
b. Otak intelektual (cerebral cortex), berfungsi untuk berpikir, berbahasa, merencanakan, menganalisis dan berkreasi. Bagian otak ini banyak dilibatkan dalam proses belajar anak.
c. Otak emosi (sistem Iimbic), yang menerima seluruh persepsi dari luar sebelum masuk ke bagian otak yang lain.

9. Prinsip kerja sistem limbik pada otak manusia dapat diuraikan sebagai berikut.
a. Sistem limbik sangat berpengaruh dalam proses belajar manusia.
b. Sistem ini mengontrol setiap informasi yang masuk dan memilih hanya informasi yang berharga.
c. Otak tidak akan memberikan perhatian kepada setiap informasi yang tidak menarik, membosankan dan tidak menimbulkan emosi.
d. Aspek fisiologi, emosi dan daya ingat mempunyai implikasi penting terhadap proses belajar.
e. Suasana belajar yang menyenangkan dapat memberikan pengalaman emosi positif sehingga dapat mengoptimalkan perhatian dan daya ingat anak.
f. Faktor emosi sangat berperan dalam proses berpikir, pemecahan masalah, dan kesuksesan jangka panjang seseorang.

10. Konsep DAP telah mengakomodasi hasil riset tentang peran otak emosi ini, antara Iain melalui cara berikut.
a. Proses belajar harus menyenangkan.
b. Memberikan pengalaman yang relevan dan bermakna.
c. Melibatkan seluruh aspek indra manusia.
d. Memberikan pengalaman yang unik dan menantang.
e. Melibatkan peran aktif fisik.
f. Memberikan hubungan antara pendidik dengan anak yang menyenangkan dan dapat dipercaya.

11. Prinsip-prinsip perencanaan kurikulum yang sesuai DAP dapat diuraikan sebagai berikut.
a. Kurikulum DAP harus mencakup semua aspek perkembangan anak melalui pendekatan yang terpadu.
b. Perencanaan kurikulum harus didasarkan pada pengamatan pendidik dan catatan yang lengkap tentang minat dan tingkat perkembangan setiap anak.
c. Perencanaan kurikulum harus diarahkan pada pembelajaran sebagai proses yang interaktif. Pendidik perlu menyiapkan lingkungan agar anak dapat belajar secara aktif melalui eksplorasi dan interaksi.
d. Kegiatan dan materi pengembangan sebaiknya konkret, nyata dan relevan dengan kehidupan anak.
e. Program pengembangan anak usia dini perlu menyediakan layanan dengan cakupan yang lebih luas dari berbagai tingkat minat dan kemampuan anak pada usia kronologis tertentu.
f. Pendidik perlu mengembangkan berbagai variasi kegiatan dan materi pengembangan, dan mengupayakan kegiatan dengan tingkat kesulitan, kompleksitas dan tantangan yang lebih tinggi agar anak terlibat aktif dan dapat mengembangkan pemahaman dan keahliannya.
g. Pendidik harus memberikan kesempatan pada anak untuk memilih sendiri ragam kegiatan, materi, peralatan, dan waktu yang cukup untuk melakukan eksplorasi. Pendidik perlu memfasilitasi keterlibatan anak tersebut dengan memberikan materi, kegiatan, mengajukan berbagai pertanyaan dan mengemukakan pendapat yang dapat memacu anak untuk berpikir.
h. Pengalaman, bahan dan perlengkapan pengembangan yang berasal dari berbagai budaya (multikultur) dan tidak bias gender perlu dikembangkan untuk anak segala usia.
i. Program pengembangan yang dipersiapkan pendidik perlu memperhatikan keseimbangan anak dalam beraktivitas dan istirahat.
j. Berbagai pengalaman dan kegiatan di luar ruang perlu diperkenalkan pada anak segala usia.

12. Beberapa prinsip interaksi antara anak dengan pendidik yang sesuai dengan konsep DAP dapat diuraikan sebagai berikut.
a. Pendidik perlu segera merespons semua kebutuhan dan keinginan anak, disesuaikan dengan perbedaan gaya dan kemampuan tiap anak.
b. Pendidik perlu memberikan kesempatan yang beragam bagi anak untuk berkomunikasi.

c. Pendidik perlu memfasilitasi agar anak berhasil dalam menyelesaikan tugasnya. Pendidik perlu menyadari bahwa anak belajar dari coba ralat (trial and error) dan bahwa beberapa miskonsepsi yang ditunjukkan anak menggambarkan perkembangan daya pikir mereka.
d. Pendidik perlu memahami tanda-tanda anak yang mengalami stres dan teknik mengatasinya.
e. Pendidik perlu memfasilitasi perkembangan rasa percaya diri anak dengan cara menerima, menenangkan dan memaklumi perilaku anak.
f. Pendidik perlu memfasilitasi perkembangan kontrol diri anak.
g. Pendidik setiap saat bertanggung jawab atas semua anak yang ada di bawah asuhannya.

13. Beberapa prinsip hubungan antara keluarga dan penyelenggara program KB/TPA yang sesuai DAP dapat diuraikan sebagai berikut.
a. Orang tua mempunyai hak dan kewajiban untuk turut serta dalam mengambil keputusan tentang pendidikan anaknya.
b. Pendidik TPA/KB perlu berbagi pengetahuan dengan orang tua tentang ilmu atau rujukan tentang perkembangan anak.
c. Pendidik TPA/KB, orang tua, lembaga TPA/KB, dan konsultan pendidikan anak perlu secara berkala menjalin komunikasi.

14. Beberapa prinsip evaluasi perkembangan anak yang sesuai DAP dapat diuraikan sebagai berikut.
a. Kebijakan yang berdampak besar pada anak tidak boleh dibuat berdasarkan satu jenis asesmen saja.
b. Asesmen perkembangan dan hasil observasi anak dapat digunakan untuk mengidentifikasi anak yang memiliki kebutuhan khusus.
c. Prediksi perkembangan anak yang didasarkan pada pengukuran dan norma yang telah dibakukan hanya merupakan informasi normatif yang perlu dipertanyakan kegunaannya.
d. Bagi tiap anak yang sudah memenuhi kelayakan usia pada program PAUD (TPA/KB/TK) tertentu, sebaiknya diatur penempatan anak sesuai dengan tingkat perkembangannya.

15. Beberapa kebijakan penting yang perlu diperhatikan untuk mencapai program pembelajaran sesuai DAP bagi anak usia dini adalah sebagai berikut.
a. Tiap pendidik AUD sebaiknya memiliki persiapan pengetahuan tingkat perguruan tinggi (Strata 1) dalam bidang pendidikan anak dan mengikuti perkembangan pengetahuan tentang perkembangan anak.
b. Pendidik AUD diharapkan telah memiliki pengalaman praktik mendidik anak usia tersebut, dan mendapat pelatihan khusus.
c. Penerapan program pendidikan anak usia dini perlu membatasi jumlah anak dalam kelompok agar pelayanan optimal.

Sumber:
Aisyah, Siti. 2008. Materi Pokok Perkembangan dan Konsep dan Pengembangan Anak Usia Dini. Jakarta: Universitas Terbuka Departemen Pendidikan Nasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *