10 Prinsip Mengajar ala Slameto

AsikBelajar.Com | Menurut Slameto (1991: 36) ada sepuluh (10) prinsip mengajar yang harus dikuasai oleh guru, sebagai berikut:

10 Prinsip Mengajar ala Slameto

1. Prinsip Perhatian
Perhatian anak didik sangat diperlukan dalam menerima bahan pelajaran dari guru. Guru pun akan sia-sia mengajar bila anak didik tidak memperhatikan penjelasan guru. Hanya keributan kalau yang terjadi di sana sini. Guru menerangkan bahan pelajaran perhatian anak didik ke arah lain. Atau anak didik dengan kegiatan mereka masing-masing.

Hal-hal di atas itu tidak harus terjadi di kelas, guru harus mengambil tindakan untuk menenangkan suasana kelas sehingga terjadi interaksi yang kondusif antara guru dan anak didik. Salah satu usaha untuk memancing perhatian anak didik adalah dengan menggunakan media yang merangsang anak didik untuk berpikir, cara lainnya adalah menghubungkan yang akan dijelaskan itu dengan pengetahuan yang telah dimiliki oleh anak didik bahan apersepsi. …75

2. Prinsip Aktivitas
Dalam proses belajar mengajar, aktivitas anak didik yang diharapkan tidak hanya aspek fisik, melainkan juga aspek mental. Anak didik bertanya, mengajukan pendapat, mengerjakan tugas, berdiskusi, menulis, membaca, membuat grafik, dan mencatat halhal penting dari penjelasan guru, merupakan sejurnlah aktivitas anak didik yang aktif secara mental maupun fisik. Di sini aktivitas anak didik lebih banyak daripada aktivitas guru. Guru hanya pembimbing dan sebagai fasilitator dari aktivitas belajar anak didik di kelas.

3. Prinsip Apersepsi
Apersepsi adalah salah satu prinsip mengajar yang ikut membantu anak didik memproses perolehan belajar. Prinsip ini bukan hanya dapat membantu anak didik untuk melakukan asosiasi, tetapi juga dapat mengadakan reproduksi terhadap pengalaman belajar, Sebab dengan prinsip ini, guru berusaha membantu anak didikdengan cara menghubungkan pelajaran yang sedang diberikan dengan pengetahuan yang telah dipunyai oleh anak didik. Proses pengolahan kesan lebih mudah dan cepat. Pengertian yang didapatkan anak didik pun tidak berkotak-kotak, seolah-olah terpisah satu sama lain.

4. Prinsip Peragaan
Dalam menyampaikan bahan pelajaran, terkadang kata-kata atau kalimat guru kurang mampu mewakili sesuatu objek yang diberikan itu. Sehingga mengaburkan pengertian tentang objek yang disampaikan. Apalagi objek yang disampaikan itu tak pernah dikenal oleh anak didik; Kesalahan pengertian cenderung terjadi oleh anak didik. Oleh karena itu, untuk mengatasi kesulitan tersebut, guru perlu menghadirkan benda-benda yang asli (kalau bisa) atau menunjukkan model, gambar, benda tiruan, atau menggunakan media lainnya seperti radio, tape recorder, televisi, dan sebagainya. Dengan penjelasan yang mendekati realistik ditambah menghadirkan bendanya, maka guru membantu anak didik membentuk pengertian di dalam jiwanya …76

terhadap suatu objek. Dengan cara ini guru, dapat lebih menggairahkan belajar anak didik dalam waktu yang relatif lama.

5. Prinsip Repetisi
Adalah suatu anggapan yang keliru bila guru beranggapan bahwa semua anak didik mudah menerima pelajaran yang diberikan di kelas. Sifat bahan pelajaran itu bermacam-macam, sehingga memerlukan strategi yang berbeda dalam penyampaian. Sifat bahan pelajaran itu bermacam-macam, sehingga memerlukan strategi yang berbeda dalam penyampaiannya. Sifat bahan pelajaran yang mudah, sedang atau sukar memerlukan tanggapan anak didik dengan tingkat pengertian yang bervariasi. Oleh karena itulah, tingkat penguasaan anak didik bervariasi.

Salah satu usaha untuk membantu anak didik agar mudah menerima dan mengerti terhadap bahan pelajaran yang dibérikan adalah dengan cara pengulangan (repetisi) terhadap kunci dengan cara diulang-ulang, sehingga membantu anak didik menyerap bahan pelajaran dengan mudah. Pengertian pun semakin lama semakin jelas di dalam otak anak didik. Tahan lama dan tidak mudah terlupakan.

6. Prinsip Korelasi
Setiap mata pelajaran itu sebenarnya hanya berbeda dalam penamaan. Dalam aplikasinya sering kait mengait. Guru yang menjelaskan suatu bahan pelajaran tidak bisa begitu saja mengabaikan penguasaan wawasan mata pelajaran lain dalam penjelasannya itu. Menjelaskan suatu-topik dalam ilmu jiwa belajar, misalnya, guru pasti memanfaatkan wawasan keilmuannya di bidang psikologi perkembangan, ilmu jiwa pendidikan, dan ilmu pendidikan. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan daya serap anak didik terhadap bahan pelajaran yang dijelaskan. Bila prinsip apersepsi bertumpu pada hubungan antara hal dalam ruang lingkup mata pelajaran itu sendiri, sedangkan prinsip korelasi berusaha menghubungkan antara mata pelajaran yang satu dengan mata pelajaran yang lain. Tetapi …77

kedua-duanya sama-sama membantu meningkatkan pengertian anak didik terhadap suatu bahan pelajaran yang diberikan oleh guru.

7. Prinsip Konsentrasi
Dalam menyampaikan bahan pelajaran, guru harus mengkonsentrasikannya pada pokok bahasan tertentu. Jangan membicarakan pokok bahasan yang lain, yang tidak ada hubungannya dengan pokok bahasan yang sedang diberikan kepada anak didik. Kekacauan pokok bahasan yang diberikan akan mengaburkan pengertian anak didik terhadap bahan yang diterima. Anak didik bingung memilih ucapan guru, karena tidak berfokus pada masalah tertentu. Oleh karena itu, pokok bahasan harus terfokus pada masalah tertentu, sehingga anak’didik mudah menyerap bahan pelajaran yang diberikan.

8. Prinsip Sosialisasi
Anak didik adalah sekelompok makhluk yang dikatakan homo so’cius, sejenis makhluk yang cenderung untuk hidup dalam kelompok. Kesendirian dalam pengasingan merupakan penderitaan-bagi anak. Diasingkan oleh kawan adalah pukulan batin yang menyedihkan bagi anak. Oleh karena itulah, sebagian besar hidup anak dihabiskan dalam. kehidupan sosial masyarakat, hidup bersama dalam interaksi sosial.

Karena di dalam kelas terdapat sekelompok anak didik dengan strata sosial yang bervariasi, maka oleh Oscar A. Oeser (1966: 50) dikatakan bahwa the classroom as a social group. The classroom as a field of social interanctions. Di sini anak didik tidak hidup sendirian, tetapi hidup bersama-sama dalam interaksi sosial. Kondisi kelas seperti ini harus guru pahami, sehingga tidak memaksakan kehendak agar anak didik dipaksa belajar seorang diri terus menerus. Suatu ketika guru perlu juga mengelompokkan anak didik ke dalam beberapa kelompok belajar, sehingga mereka dapat bekerja sama, saling menolong, bergotong royong dalam menyelesaikan tugas yang diberikan. Belajar dalam kebersamaan dapat meningkatkan gairah belajar anak didik di kelas …78

9. Prinsip Individualisasi
Meski anak didik hidup dalam sistem sosial, tapi anak didik tetap mempunyai karakteristik tersendiri. Itulah sebabnya setiap anak didik mempunyai perbedaan yang khas seperti perbedaan inteligensi, hobi, bakat, dan minat, perilaku, watak, dan gaya belajar. Latar belakang kebudayaan, tingkat sosial ekonomi dan kehidupan rumah tangga orang tua ikut andil melahirkan perbedaan anak didik secara individual.

Perbedaan anak didik di atas perlu guru pahami demi kepentingan pengajaran. Paling tidak bagaimana guru merencanakan program pengajaran demi kepentingan perbedaan individual anak didik. Memahami anak didik sebagai individu dengan segala kekurangan dan kelebihannya merupakan tugas guru yang tidak bisa ditawartawar dalam kerangka ketuntasan belajar (mastery learning) bagi anak didik. Daya serap anak didik yang tidak sama merupakan titik rawan yang hanya dapat dipecahkan dengan pemberian waktu yang bervariasi dalam belajar. Itulah pentingnya penerapan prinsip individualisasi bagi guru.

10. Prinsip Evaluasi
Evaluasi merupakan bagian dari kegiatan guru yang tidak bisa diabaikan. Sebab evaluasi dapat memberikan petunjuk sampai di mana keberhasilan kegiatan belajar mengajar yang telah dilaksanakan. Dengan evaluasi dapat diketahui keberhasilan produk dan keberhasilan proses. Agar pelaksanaannya tidak bias, guru harus memiliki pengertian yang jelas mengenai evaluasi, tahu apa tujuan evaluasi, kegunaannya untuk apa, dan tidak buta terhadap fungsi evaluasi, bentuk maupun prosedur evaluasi.

Evaluasi tidak sekadar dilaksanakan, sehingga pembuatan item soal yang terkesan asal-asalan. Evaluasi diharapkan dapat memberikan data yang akurat, sehingga dapat ditindaklanjuti dengan memprogramkan kegiatan belajar mengajar lebih baik.

Hasil evaluasi dalam bentuk laporan yang tertera dalam buku rapor dapat memberikan motivasi kepada anak didik dalam belajar. …79

Mempertahankan atau meningkatkan prestasi belajarnya kemungkinan sikap dan perilaku yang muncul dari dalam diri pribadi anak didik. Apa pun efek yang timbul dari dalam diri anak didik, evaluasi tetap harus guru laksanakan dengan terprogram. …80

Sumber:
Djamarah, Syaiful Bahri, 2000. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.Hal.75-80.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *