Asal Mula Kata Weblog/blog

asik belajar dot com. Sebelumnya dalam postingan berjudul "Blog itu apa sih...?" [Klik Disini] sudah diulas sejarah asal mula ditemukannya blog. Tapi pernahkah kita berpikir "kenapa disebut weblog / blog...?" Kenapa ga disebut ngoceh online atau apa gitu...heeeee.

Dari penelusuran asik belajar dot com, ditemukan arsip sejarah asal mula kenapa disebut weblog atau blog, ceritanya gini...

Blog merupakan hasil evolusi dari diary online: Diary atau catatan harian mengenai pendapat, opini, dan apapun itu dalam bentuk yang dipublikasikan secara online (menggunakan website). Salah seorang pioneer dari internet-based journalist ini adalah Justin Hall, yang melakukan membuat online diarynya Justin Links From The Underground ketika dia masih merupakan pelajar dari Swarthmore College.

Kala itu, Blog (atau ketika itu bernama online diary) pada umumnya merupakan website yang berisi kumpulan link menuju halaman web lain yang disertai komentar dan opini pemilik online diary tersebut mengenai halaman dari tujuan link tersebut. Sehingga online diary ketika itu bisa juga dikatakan sebagai katalog link berdasarkan opini pemilik. Para diarist adalah editor yang memilih link mana yang menarik dan menampilkan link tersebut di online diarynya.

Pada tahun 1997, Jorn Barger, seorang programer yang juga mengelola website online diary “robot wisdom” menciptakan istilah weblog yang diambil dari kata “logging the web”. Logging bisa diartikan masuk. So, logging the web bisa diartikan “memasuki web”. Korelasinya adalah blogger awal di kala itu merupakan orang yang masuk ke belantara web dan menyortir link-link menarik berdasarkan opininya.

Hingga 1998, baru ada beberapa website yang dapat diidentifikasikan sebagai blog, hingga ketika itu menjelajahi semua weblog masih memungkingkan untuk di lakukan.

Pada tahun 1999, Peter Merholz menyebutkan istilah weblog sebagai wee-blog, hingga akhirnya dibuat pendek menjadi blog saja. Orang yang mengelola blog kemudian di sebut “blogger”.
Sumber: http://anjani22.wordpress.com/2012/01/05/awal-mula-blog/
 Demikian kenapa sampai sekarang kita sebut blog. Ada yang usul....?
www.asikbelajar.com Ujar

4 Ciri Kepemimpinan Transformasional Kepala Sekolah

asik belajar dot com.  Menurut Bass (Tschannen-Moran, 2003) untuk menghasilkan produktivitas, kepemimpinan transformasional telah didefinisikan sebagai “Four I’s” – individualized influence, inspirational motivation, intellectual stimulation, dan individualized consideration.
Hal penting yang harus diingat bagi siapa saja yang ingin mempraktekkan kepemimpinan transformasional adalah tidak hanya mengandalkan kharisma personalnya, tapi ia harus mencoba untuk memberdayakan stafnya serta melaksanakan fungsi-fungsi kepemimpinan (Leithwood, 1992: 69).  Adapun definisi rincian masing-masing ciri utama tersebut adalah sebagai berikut :

a.    Idealisasi Pengaruh (Idealized Influence)
Idealisasi pengaruh adalah perilaku yang menghasilkan standar perilaku yang tinggi, memberikan wawasan dan kesadaran akan visi, menunjukkan keyakinan, menimbulkan rasa hormat, bangga dan percaya, menumbuhkan komitmen dan unjuk kerja melebihi ekspektasi, dan menegakkan perilaku moral yang etis.
Pemimpin yang memiliki idealisasi pengaruh akan menunjukkan perilaku antara lain: mengembangkan kepercayaan bawahan kepada atasan, membuat bawahan berusaha meniru perilaku dan mengidentifikasi diri dengan pemimpinnya, menginspirasikan bawahan untuk menerima nilai-nilai, norma-norma dan prinsip-prinsip bersama, mengembangkan visi bersama, menginspirasikan bawahan untuk mewujudkan standar perilaku secara konsisten, mengembangkan budaya dan ideologi organisasi yang sejalan dengan masyarakat pada umumnya, dan menunjukkan rasa tanggung jawab sosial dan jiwa melayani yang sejati.

b.    Motivasi Inspirasional (Inspirational Motivation)
Motivasi inspirasional adalah sikap yang senantiasa menumbuhkan tantangan, mampu mencapai ekspektasi yang tinggi, mampu membangkitkan antusiasme dan motivasi orang lain, serta mendorong intuisi dan kebaikan pada diri orang lain.  Pemimpin mampu membangkitkan semangat anggota tim melalui antusiasme dan optimisme.  Pemimpin juga memanfaatkan simbol-simbol untuk memfokuskan usaha dan mengkomunikasikan tujuan-tujuan penting dengan cara yang sederhana.  Pemimpin yang memiliki motivasi inspirasional mampu meningkatkan motivasi dan antusiasme bawahan, membangun kepercayaan diri terhadap kemampuan untuk menyelesaikan tugas dan mencapai sasaran kelompok.

c.    Konsiderasi Individual (Individualized Consideration)
Konsiderasi individual adalah perilaku yang selalu mendengarkan dengan penuh kepedulian dan memberikan perhatian khusus, dukungan, semangat, dan usaha pada kebutuhan prestasi dan pertumbuhan anggotanya.  Pemimpin transformasional memiliki perhatian khusus terhadap kebutuhan individu dalam pencapaiannya dan pertumbuhan yang mereka harapkan  dengan berperilaku sebagai pelatih atau mentor.  Bawahan dan rekan kerja dikembangkan secara suksesif dalam meningkatkan potensi yang mereka miliki.  Konsiderasi ini sangat mempengaruhi kepuasan bawahan terhadap atasannya dan dapat meningkatkan produktivitas bawahan.  Konsiderasi ini memunculkan antara lain dalam bentuk memperlakukan bawahan secara individu dan mengekspresikan penghargaan untuk setiap pekerjaan yang baik.

d.    Stimulasi Intelektual (Intellectual Stimulation)
Stimulasi intelektual adalah proses meningkatkan pemahaman dan merangsang timbulnya cara pandang baru dalam melihat permasalahan, berpikir, dan berimajinasi, serta dalam menetapkan nilai-nilai kepercayaan.  Dalam melakukan kontribusi intelektual melalui logika, analisa, dan rasionalitas, pemimpin menggunakan simbol sebagai media sederhana yang dapat diterima oleh pengikutnya.  Melalui stimulasi intelektual pemimpin dapat merangsang tumbuhnya inovasi dan cara-cara baru dalam menyelesaikan suatu masalah.  Melalui proses stimulasi ini akan terjadi peningkatan kemampuan bawahan dalam memahami dan memecahkan masalah, berpikir, dan berimajinasi, juga perubahan dalam nilai-nilai dan kepercayaan mereka.  Perubahan ini bukan saja dapat dilihat secara langsung, tetapi juga perubahan jangka panjang ysng merupakan lompatan kemampuan konseptual, pemahaman dan ketajaman dalam menilai dan memecahkan masalah.

Menurut Bass sebagaimana yang dikutip oleh Robbins (Danim, 2009: 57), bahwa ada empat ciri kepemimpinan transformasional, yakni 1) Karismatik, 2) Stimulasi inspiratif, 3) Stimulasi intelektual dan 4) Pertimbangan individu.
Keempat ciri kepemimpinan yang dimaksud adalah sebagai berikut:
1)    Karismatik
Karismatik yaitu memberikan visi dan misi organisasi dengan jelas, menanamkan kebanggaan, memperoleh respek, dukungan dan kepercayaan dari bawahan atau rekan kerjanya (Danim, 2009: 57).
Selanjutnya Dubrin (2005: 44) menjelaskan bahwa karisma adalah pesona personal dan daya tarik pribadi yang dipakai untuk memimpin orang lain.  Menurut Dubrin, dimensi perilakunya adalah optimis, jujur, ekspresi wajah yang hidup, pujian beralasan, tampilan gagah dan bersikap tegas, tindakan dan gerakan mempunyai tujuan.
Menurut Wahjosumidjo (2008: 34), bahwa kepemimpinan kharismatik adalah sebagai berikut:
1.    Bawahan menaruh kepercayaan terhadap kebenaran dan keyakinan pimpinan.
2.    Ada kesamaan keyakinan bawahan dan pimpinan.
3.    Penerimaan tanpa perlu dipersoalkan dari bawahan terhadap pimpinan.
4.    Terdapat rasa kasih sayang pengikut kepada pimpinan.
5.    Kemauan untuk patuh dari bawahan terhadap pimpinan.
6.    Keterlibatan secara emosional dari bawahan dalam melaksanakan misi organisasi.
7.    Mempertinggi penampilan dalam mencapai tugas dari bawahan.
8.    Ada keyakinan bawahan bahwa pemimpin akan memberikan bantuan demi keberhasilan misi kelompok.
Menurut Balitbang (2003: 17), karisma diartikan sebagai pola perilaku yang mencerminkan kewibawaan dan keteladanan.  Melalui karisma pemimpin, akan mampu menumbuhkan rasa percaya diri dan saling mempercayai antara dirinya dengan bawahan.  Karisma seorang pemimpin akan menyebabkan bawahan menerima sebagai model yang ingin ditirunya setiap saat dan pada gilirannya akan memberikan bawahan serta kesadaran misi dan membangkitkan kebanggaan serta menumbuhkan rasa hormat dan kepercayaan pada bawahan.  Hal ini karena seorang pemimpin yang memiliki karisma akan lebih mudah dalam mengajak dan mempengaruhi para bawahan serta bersama-sama mengembangkan dan memajukan unit kerja.
Aspek-aspek perilaku karisma adalah sebagai berikut:
a.    Keteladanan
Seorang pemimpin yang menjadi panutan ia harus mempunyai sikap setia kepada organisasi, setia pada bawahan, dedikasi pada tugas, disiplin kerja, landasan moral dan etika yang digunakan, kejujuran, perhatian pada kepentingan dan berbagai nilai-nilai yang bersifat positif.  Selain itu, keteladanan kepala sekolah tidak hanya tercermin dalam kehidupan organisasi, akan tetapi juga dalam kehidupan pribadinya seperti kehidupan keluarga yang harmonis, gaya hidup yang sesuai dengan kemampuan dengan memperhitungkan keadaan lingkungan, dan kepekaan terhadap kondisi sosial lainnya (Siagian, 1990: 105).
b.    Berlaku jujur
Pemimpin karismatik adalah pemimpin yang jujur dan terbuka pada orang lain, tidak kaku, biasanya terus terang dalam memberikan penilaian atas sesuatu dan situasi.  Kebenaran itu pahit, tetapi tidak melemahkan pemimpin yang karismatik (Dubrin, 2005: 49).
c.    Kewibawaan
Menurut Fiedler dan Chamers (Wahjosumidjo, 2001: 20), kewibawaan merupakan keunggulan, kelebihan atau pengaruh yang dimiliki oleh pimpinan.  Kewibawaan pimpinan dapat mempengaruhi orang lain, menggerakkan, memberdayakan segala sumber daya institusi kerja untuk mencapai tujuan institusi sesuai dengan keinginan pimpinan.
d.    Memiliki semangat
Optimisme dan enerjik merupakan kualitas yang luar biasa dari orang yang karismatik yaitu selalu bersemangat, optimis dan enerjik setiap saat.
e.    Pujian yang beralasan
Pemimpin karismatik, selalu jujur dan memberi pujian.  Pujian jujur membuat orang lain merasa senang.  Membuat orang lain senang merupakan salah satu ciri pemimpin karismatik (Dubrin, 2005: 51).
f.    Menggunakan ekspresi wajah yang hidup
Pemimpin karismatik selalu menunjukkan ekspresi wajah yang hidup, menghargai setiap bawahan yang diekspresikan dengan tulus, bersikap positif terhadap bawahan, tetap menghormati dan bersedia sepakat untuk berbeda pendapat, jika itu pilihannya (Trusco, 2002: 268).

2)    Stimulasi Inspiratif
Stimulasi inspratif adalah mengkomunikasikan harapan tinggi, menggunakan lambang-lambang untuk memfokuskan upaya mengungkap-kan maksud-maksud penting dengan cara yang sederhana (Danim, 2009: 57).
Aspek perilaku dari stimulasi inspirasional adalah:
a.    Komunikasi yang efektif
Menurut Gibson, Ivancevich dan Donelly (Danim, 2009: 17), bahwa komunikasi adalah pemindahan informasi dan pemahaman dengan menggunakan simbol-simbol verbal dan non verbal yang didalamnya mencakup komunikator, pesan, media, penerima pesan dan tanggapan baik.
Ada delapan faktor yang mempengaruhi komunikasi efektif, yaitu 1) mengkomunikasikan kemenangan, 2) membandingkan antara kata-kata dan perbuatan, 3) komitmen untuk melakukan komunikasi dua arah, 4) menitiberatkan pada komunikasi secara tatap muka, 5) meng-komunikasikan pembagian tanggung jawab, 6) mempertimbangkan baik-buruk, 7) mengetahui siapa pengguna, klien dan audien, 8) memiliki strategi komunikasi (Danim, 2009: 18).
b.    Motivasi
Motivasi merupakan suatu kekuatan atau tenaga atau daya atau suatu keadaan yang kompleks dan kesiapsediaan dalam diri individu untuk bergerak ke arah tujuan tertentu baik disadari maupun tidak didasari (Makmun, 2009: 37).
Motivasi merupakan aspek psikologis yang mempengaruhi perilaku seseorang, yang mendorong untuk melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan atau kebutuhan, baik sadar atau tidak sadar (Thoha, 2010: 207).
Perilaku manusia, selalu mengandung tiga aspek, yang kedudukannya bertahap dan berurutan, yaitu:
a)    Motivating state, yaitu timbulnya kekuatan dan terjadinya kesiapsediaan sebagai akibat terasanya kebutuhan jaringan atau sekresi, hormonal dalam diri seseorang atau karena terangsang oleh simulasi tertentu.
b)    Motivated behavior, yaitu bergeraknya seseorang ke arah tujuan tertentu sesuai dengan sifat kebutuhan yang hendak dipenuhi dan dipuaskan.
c)    Satisfied conditions, yaitu dengan berhasilnya dicapai tujuan yang dapat memenuhi kebutuhan yang terasa, maka keseimbangan dalam diri seseorang pulih kembali yakni terpeliharanya homeostatis, kondisi demikian dihayati sebagai rasa nikmat, puas dan lega.  Jika yang terjadi sebaliknya, tujuannya tidak tercapai, maka terjadilah ketegangan yang memuncak sehingga seseorang merasa kecewa (frustation) (Makmun, 2009: 39).
c.    Pemberian inspirasi
Kepala sekolah pada hakekatnya adalah sumber semangat bagi para guru, staf dan siswa.  Oleh sebab itu kepala sekolah harus selalu membangkitkan semangat, percaya diri terhadap para guru, staf dan siswa sehingga mereka menerima dan memahami tujuan sekolah secara antusias, bekerja secara bertanggungj awab ke arah tercapainya tujuan  sekolah (inspiring) (Wahjosumidjo, 1999: 109).

3)    Stimulasi Intelektual
Dalam stimulasi intelektual, pemimpin mendorong bawahan untuk memikirkan kembali cara kerja dan mencari-cari cara kerja baru dalam menyelesaikan tugasnya.  Pengaruhnya diharapkan, bawahan merasa pimpinan menerima dan mendukung mereka untuk memikirkan cara-cara kerja mereka, mencari cara-cara baru dalam menyelesaikan tugas, dan merasa menemukan cara-cara kerja baru dalam mempercepat tugas-tugas mereka.  Pengaruh positif lebih jauh adalah menimbulkan semangat belajar yang tinggi (oleh Peter Senge, hal ini disebut sebagai “learning organization”).
Aspek perilaku dari stimulasi intelektual adalah:
a.    Inovatif
Adalah pimpinan mengajak bawahan untuk melakukan sesuatu yang baru atau menemukan sesuatu dalam pengembangan institusi ke arah perubahan sesuai dengan yang ditetapkan.  Selain itu, pimpinan harus menimbulkan kepekaan para staff terhadap sesuatu yang baru dan dapat diimplementasikan.
b.    Profesionalisme
Seseorang dikatakan profesional jika melakukan pekerjaannya dengan keahlian khusus dan menghasilkan produk yang berkualitas, bertang-gungjawab dan sistematis (Trusco, 2002: 405).
c.    Evaluasi diri
Pemimpin transformasional selalu mengevaluasi diri atas tindakan-tindakan yang dilakukan dengan tujuan untuk perbaikan selanjutnya.
d.    Mengembangkan ide baru
Pemimpin transformasional selalu mencari ide-ide baru dalam mengembangkan organisasi dan ide tersebut disampaikan pada bawahan untuk diimplementasikan.
e.    Kepemimpinan kolektif
Kepemimpinan yang melibatkan bawahan dalam perencanaan dan pengambilan keputusan dalam organisasi.  Pimpinan tidak melakukan sendiri pekerjaan atau hanya menugaskan pada orang-orang tertentu saja, melainkan melibatkan semua anggota organisasi untuk terlibat dalam rangka mencapai tujuan.
f.    Kreatif
Pimpinan mendorong bawahan untuk kreatif dalam melaksanakan tugas.

4)    Pertimbangan Individual
Pertimbangan individual adalah memberikan perhatian pribadi, memperlakukan setiap karyawan secara individual, melatih dan menasehati (Danim, 2009: 57).
Menurut Wahjosumidjo (1999: 24), bahwa pertimbangan individual (Individual consideration) menunjukkan perilaku yang bersahabat, saling adanya kepercayaan, saling menghormati dan hubungan yang sangat hangat dalam kerja sama antara pemimpin dengan anggota kelompok.  Seorang pemimpin transformasional akan memperhatikan faktor-faktor individu sebagaimana mereka tidak boleh disamaratakan karena adanya perbedaan, kepentingan, latar belakang, sosial budaya, dan pengembangan pribadi yang berbeda satu dengan lain.  Pemimpin transformasional akan memberikan perhatian untuk membina, membimbing dan melatih setiap anggota sesuai dengan karakteristik individu yang dipimpinnya.
Selanjutnya Bass (1985: 29) mengatakan bahwa kepemimpinan transformasional mau mendengarkan dengan penuh perhatian masukan-masukan bawahan/pengikut serta secara khusus mau memperhatikan kebutuhan bawahan/pengikut akan pengembangan karir.  Dalam kepemimpinan transformasional, penyamarataan perbedaan individu tidak mendapatkan tempatnya.  Setiap pemimpin transformasional akan memperhatikan faktor-faktor individual sebagaimana tidak bisa disamaratakan karena adanya perbedaan, kepentingan, dan pengembangan diri yang berbeda.
Perilaku dari pertimbangan individu (individual consideration) adalah:
a.    Toleransi
Toleransi adalah penyimpangan-penyimpangan yang diperbolehkan.  Manusia tidak luput dari segala kekurangan, namun demikian, kekurangan tersebut ada norma yang membatasi sesuai dengan aturan dalam organisasi.  Pemimpin adalah juga manusia biasa, sudah pasti dalam melaksanakan tugasnya dan berinteraksi dengan sesama staf dan pegawai pasti ada kekurangan.  Pemimpin harus dapat memberikan tindakan yang pantas sesuai dengan batasan penyimpangan yang diperbolehkan.
b.    Adil
Adil artinya tidak membeda-bedakan staf yang ada dalam organisasi.  Hal ini akan menimbulkan persaingan sehat diantara staf dalam upaya meningkatkan kinerjanya.  Bagi mereka yang melakukan kesuksesan dalam pekerjaan harus mendapatkan penghargaan yang setimpal, sebaliknya yang melakukan kesalahan mendapatkan sanksi setimpal yang sifatnya pembinaan.
c.    Pemberdayaan
Dubrin (2005: 150), menyatakan bahwa pemimpin dapat membangun kepercayaan, keterlibatan dan kerjasama antar anggota tim.  Pemimpin harus menaruh kepercayaan yang tinggi terhadap staf, artinya tanpa ragu-ragu kepada staf dengan satu keyakinan tugas tersebut akan dapat dilaksanakan dengan baik.  Pemberian kepercayaan dengan sendirinya akan menanamkan dan meningkatkan rasa percaya diri staf.
d.    Demokratis
Demokratis artinya keterbukaan dan keinginan memposisikan pekerjaan dari, oleh dan untuk bersama.  Menurut Thoha (2010: 131), dalam kepemimpinan demokratis, ada atau tidak adanya pemimpin, organisasi tetap berjalan.
e.    Partisipatif
Partisipatif artinya melibatkan bawahan dalam pengambilan keputusan.  Pimpinan meminta pendapat, saran dari staf tentang apa yang akan dilaksanakan.  Dengan demikian staf merasa ikut bertanggungjawab atas keputusan yang diambil pimpinan.
f.    Penghargaan
Penghargaan merupakan sesuatu yang diharapkan untuk diperoleh.  Penghargaan ada dua macam, yakni penghargaan instrinsik dan ekstrinsik.  Saefullah (2005: 248) menyatakan bahwa penghargaan instrinsik adalah sesuatu yang dirasakan oleh dirinya ketika melakukan sesuatu.  Sesuatu yang dirasakan ini dapat berupa kepuasan dalam melaksanakan tugas.  Hal ini akan berdampak terhadap adanya kepercayaan diri.  Sedangkan penghargaan ekstrinsik adalah sesuatu yang diterima seseorang dari lingkungan tempat kerja dimana sesuatu yang diperolehnya sesuai dengan harapannya.  Penghargaan ini dapat berupa dari pimpinan yang bentuknya berupa promosi.
www.asikbelajar.com Manajemen

Teori, Karakteristik , Prinsip Dasar Pembelajaran Quantum

asik belajar dot com. Untuk melengkapi koleksi kumpulan model pembelajaran, maka kali ini model pembelajaran yang diposting mengenai model pembelajaran quantum. Apa dan bagaimana model pembelajaran quantum tersebut, silakan baca di bawah ini...

A. Landasan Teori
Quantum teaching pertamakali dikembangkan oleh De Porter. Mulai dipraktekkan pada tahun 1992, dengan mengilhami rumus yang terkenal dalam fisika kuantum yaitu masa kali kecepatan cahaya kuadrat sama dengan energi. Dengan rumus itulah mendefinisikan Quantum sebagai interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya.

Pembelajaran Quantum bermakna interaksi-interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya karena semua energi adalah kehidupan dan dalam proses pembelajarannya mengandung keberagaman dan interdeterminisme. Dengan kata lain interaksi-interaksi yang dimaksud mengubah kemampuan dan bakat alamiah siswa menjadi cahaya yang akan bermanfaat bagi mereka sendiri dan bagi orang lain.

Teori yang terkandung dalam Quantum Teaching adalah Accelerated Learning, Multiple Intelligences, Neuro-Linguistic Programming, Experiential Learning, dan Elements of Effective Instruction sehingga Quantum Teahing merangkaikan sebuah kekuatan yang memadukan multisensori, multikecerdasan, dan kompatibel dengan otak yang didalamnya meramu konsep berbagai teori yaitu: 1) teori otak kanan/kiri; 2) teori otak triune (3 in 1); 3) pilihan modalitas (visual, auditorial dan kinestetik); 4) teori kecerdasan ganda; 5) pendidikan holistic (menyeluruh); 6) belajar berdasarkan pengelaman; 7) belajar dengan symbol, dan 8) simulasi/permainan.

B. Karakteristik
Secara umum, Quantum Teaching (pembelajaran kuantum) mempunyai karakteristik sebagai berikut:
  1. Berpangkal pada psikologi kognitif.
  2. Bersifat humanistik, manusia selaku pembelajar menjadi pusat perhatian. Potensi diri, kemampuan pikiran, daya motivasi dan sebagainya dari pembelajar dapat berkembang secara optimal dengan meniadakan hukuman dan hadiah karena semua usaha yang dilakukan pembelajar dihargai. Kesalahan sebagai manusiawi.
  3. Bersifat konstruktivistis, artinya memadukan, menyinergikan, dan mengolaborasikan faktor potensi diri manusia selaku pembelajar dengan lingkungan (fisik dan mental) sebagai konteks pembelajaran. Oleh karena itu, baik lingkungan maupun kemampuan pikiran atau potensi diri manusia harus diperlakukan sama dan memperoleh stimulant yang seimbang agar pembelajaran berhasil baik.
  4. Memusatkan perhatian pada interaksi yang bermutu dan bermakna. Dalam proses pembelajaran dipandang sebagai penciptaan intekasi-interaksi bermutu dan bermakna yang dapat mengubah energi kemampuan pikiran yang dapat mengubah energi kemampuan pikiran dan bakat alamiah pembelajar menjadi cahaya yang bermanfaat bagi keberhasilan pembelajar.
  5. Menekankan pada pemercepatan pembelajaran dengan taraf keberhasilan tinggi. Dalam prosesnya menyingkirkan hambatan dan halangan sehingga menimbulkan hal-hal yang seperti: suasana yang menyengkan, lingkungan yang nyaman, penataan tempat duduk yang rileks, dan lain-lain.
  6. Menekankan kealamiahan dan kewajaran proses pembelajaran. Dengan kealamiahan dan kewajaran menimbulkan suasana nyaman, segar sehat, rileks, santai, dan menyenangkan serta tidak membosankan.
  7. Menekankan kebermaknaan dan dan kebermutuan proses pembelajaran. Dengan kebermaknaan dan kebermutuan akan menghadirkan pengalaman yang dapat dimengerti dan berarti bagi pembelajar, terutama pengalaman perlu diakomodasi secara memadai.
  8. Memiliki model yang memadukan konteks dan isi pembelajaran. Konteks pembelajaran meliputi suasana yang memberdayakan, landasan yang kukuh, lingkungan yang mendukung, dan rancangan yang dinamis. Sedangkan isi pembelajaran meliputi: penyajian yang prima, pemfasilitasan yang fleksibel, keterampilan belajar untuk belajar dan keterampilan hidup.
  9. Menyeimbangkan keterampilan akademis, keterampilan hidup dan prestasi material.
  10. Menanamkan nilai dan keyakinan yang positif dalam diri pembelajar. Ini mengandung arti bahwa suatu kesalahan tidak dianggapnya suatu kegagalan atau akhir dari segalanya. Dalam proses pembelajarannya dikembangkan nilai dan keyakinan bahwa hukuman dan hadiah tidak diperlukan karena setiap usaha harus diakui dan dihargai.
  11. Mengutamakan keberagaman dan kebebasan sebagai kunci interaksi. Dalam prosesnya adanya pengakuan keragaman gaya belajar siswa dan pembelajar.
  12. Mengintegrasikan totalitas tubuh dan pikiran dalam proses pembelajaran, sehinga pembelajaran bias berlangsung nyaman dan hasilnya lebih optimal.

C. Prinsip Dasar
Prinsip dasar yang terdapat dalam pembelajaran Quantum adalah:
1] Bawalah dunia mereka (siswa) ke dalam dunia kita (guru), dan antarkan dunia kita (guru ke dalam dunia mereka (siswa).
2] Proses pembelajaran bagaikan orkestra simfoni, yang secara spesifik dapat dijabarkan sebagai berikut:
  • a) Segalanya dari lingkungan. Hal ini mengandung arti baik lingkungan kelas/sekolah sampai bahasa tubuh guru; dari lembar kerja atau kertas kerja yang dibagikan anak sampa rencana pelakanaan pembelajaran, semuanya mencerminkan pembelajaran.
  • b) Segalanya bertujuan. Semua yang terjadi dalam proses pembelajaran mempunyai tujuan semuanya.
  • c) Pengalaman mendahului pemberian nama. Pembelajaran yang baik adalah jika siswa telah memperoleh informasi terlebih dahulu apa yang akan dipelajari sebelum memperoleh nama untuk apa yang mereka pelajari. Ini diilhami bahwa otak akan berkembang pesat jika adanya rangsangan yang kompleks selanjunya akan menggerakkan rasa keingintahuan.
  • d) Akuilah setiap usaha. Dalam proses pembelajaran siswa seharusnya dihargai dan diakui setiap usahanya walaupun salah, karena belajar diartikan sebagai usaha yang mengandung resiko untuk keluar dari kenyamanan untuk membongkar pengetahuan sebelumnya.
  • e) Jika layak dipelajari, maka layak pula dirayakan. Segala sesuatu yang telah dipelajari oleh siswa sudah pasti layak pula dirayakan keberhasilannya.
3] Pembelajaran harus berdampak bagi terbentuknya keunggulan. Ada depalapan kunci keunggulan dalam pembelajaran kuantum yaitu:
  • a) terapkan hidup dalam integritas, dalam pembelajaran sebagai bersikap apa adanya, tulus, dan menyeluruh, sehingga akan meningkatkan motivasi belajar.
  • b) akuilah kegagalan dapat membawa kesuksesan. Jika mengalami kegagalan janganlah membuat cemas terus menerus tetapi memberikan informasi kepada kita untuk belajar lebih lanjut.
  • c) berbicaralah dengan niat baik. Dalam pembelajaran hendaknya dikembangkan keterampilan berbicara dalam arti positif dan bertanggung jawab atas komunikasi yang jujur dan langsung. Dengan niat bicara yang baik akan mendorong rasa percaya diri dan motivasi.
  • d) tegaslah komitmen. Dalam pembelajaran baik guru maupun siswa harus mengikuti visi-misi tanpa ragu-ragu.
  • e) jadilah pemilik, mengandung arti bahwa siswa dan guru memiliki rasa tanggung jawab sehingga terjadi pembelajaran yang bermakna dan bermutu.
  • f) tetaplah lentur. Seorang guru terutama harus pandai-pandai mengubah lingkungan dan suasana bilamana diperlukan.
  • g) Pertahankan keseimbangan. Dalam pembelajaran, pertahankan jiwa, tubuh, emosi dan semangat dalam satu kesatuan dan kesejajaran agar proses dan hasil pembelajaran efektif dan optimal.
4] Kerangka Perencanaan Pembelajaran Quantum
Kerangka perencanaan pembelejaran kuantum dikenal dengan singkatan “TANDUR”, yaitu:
  • a) Tumbuhkan : Konsep tumbuhkan ini sebagai konsep operasional dari prinsip “bawalah dunia mereka ke dunia kita”. Dengan usaha menyertakan siswa dalam pikiran dan emosinya, sehingga tercipta jalinan dan kepemilikan bersama atau kemampuan saling memahami.  Secara umum konsep tumbuhkan adalah sertakan diri mereka, pikat mereka, puaskan keingintahuan, buatlah siswa tertarik atau penasaraan tentang materi yang akan diajarkan. Dari hal tersebut tersirat, bahwa dalam pendahuluan (persiapan) pembelajaran dimulai guru seyogyanya menumbuhkan sikap positif dengan menciptakan lingkungan yang positif, lingkungan sosial (komunitas belajar), sarana belajar, serta tujuan yang jelas dan memberikan makna pada siswa, sehingga menimbulkan rasa ingin tahu.  Berikut pertanyaan-pertanyaan yang dapat dipakai sebagai acuan guru: hal apa yang siswa pahami? Apa yang siswa setujui? Apakah manfaat dan makna materi tersebut bagi siswa? Pada bagian apa siswa tertari/bermakna? Stategi untuk melaksanakan TUMBUHKAN tidak harus dengan tanya jawab, menuliskan tujuan pembelajaran dipapan tulis, melainkan dapat pula dengan penyajian gambar/media yang menarik atau lucu, isu muthakir, atau cerita pendek tentang pengalaman seseorang.
  • b) Alami : Tahap ini jika kita tulis pada rencana pelaksanaan pembelajaran terdapat pada kegiatan inti. Konsep ALAMI mengandung pengertian bahwa dalam pembelajaran guru harus memberi pengalaman dan manfaat terhadap pengetahuan yang dibangun siswa sehingga menimbulkan hasrat alami otak untuk menjelajah.Pertanyaan yang memandu guru pada konsep alami adalah cara apa yang terbaik agar siswa memahami informasi? Permainan atau keinginan apa yang memanfaatkan pengetahuan yang sudah mereka miliki? Permainan dan kegiatan apa yang memfasilitasi siswa? Strategi konsep ALAMI dapat menggunakan jembatan keledai, permainan atau simulasi dengan memberi tugas secara individu atau kelompok untuk mengaktifkan pengetahuan yang telah dimiliki.
  • c) Namai : Konsep ini berada pada kegiatan inti, yang NAMAI mengandung maksud bahwa penamaan memuaskan hasrat alami otak (membuat siswa penasaran, penuh pertanyaan mengenai pengalaman) untuk memberikan identitas, menguatkan dan mendefinisikan. Penamaan dalam hal ini adalah mengajarkan konsep, melatih keterampilan berpikir dan strategi belajar. Pertanyaan yang dapat memenadu guru dalam memahami konsep NAMAI yaitu perbedaan apa yang perlu dibuat dalam belajar? Apa yang harus guru tambahkan pada pengertian siswa? Strategi, kiat jitu, alat berpikir apa yang digunakan untuk siswa ketahui atau siswa gunakan? Strategi implementasi konsep NAMAI dapat menggunakan gambar susunan gambar, warna, alat Bantu, kertas tulis dan poster di dinding atau yang lainnya.
  • d) Demonstrasikan :  Tahap ini masih pada kegiatan ini. Inti pada tahap ini adalah memberi kesempatan siswa untuk menunjukkan bahwa siswa tahu. Hal ini sekaligus memberi kesempatan siswa untuk menunjukkan tingkat pemahaman terhadap materi yang dipelajari. Panduan guru untuk memahami tahap ini yaitu dengan cara apa siswa dapat memperagakan tingkat kecakapan siswa dengan pengetahuan yang baru? Kriteria apa yang dapat membantu guru dan siswa mengembangkan bersama untuk menuntut peragaan kemampuan siswa. Strategi yang dapat digunakan adalah mempraktekkan, menyusun laporan, membuat presentasi dengan powerpoint, menganalisis data, melakukan gerakan tangan, kaki, gerakan tubuh bersama secara harmonis, dan lain-lain.
  • e) Ulangi : Tahap ini jika kita tuangkan pada rencana pelaksanaan pembelajaran terdapat pada penutup. Tahap ini dilaksanakan untuk memperkuat koneksi saraf dan menumbuhkan rasa “aku tahu bahwa aku tahu ini”. Kegiatan ini dilakukan secara multimodalitas dan multikecerdasan. Panduan guru untuk memasukan tahap ini yaitu cara apa yang terbaik bagi siswa untuk mengulang pelajaran ini? Dengan cara apa setiap siswa akan mendapatkan kesempatan untuk mengulang? Strategi untuk mengimplementasikan yaitu bias dengan membuat isian “aku tahu bahwa aku tahu ini” hal ini merupakan kesempatan siswa untuk mengajarkan pengetahuan baru kepada orang lain (kelompok lain), atau dapat melakukan pertanyaan – pertanyaan post tes.
  • f) Rayakan : Tahap ini dituangkan pada penutup pembelajaran. Dengan maksud memberikan rasa rampung, untuk menghormati usaha, ketekunan, dan kesusksesan yang akhirnya memberikan rasa kepuasan dan kegembiraan. Dengan kondisi akhir siswa yang senang maka akan menimbulkan kegairahan siswa dalam belajar lehi lanjut. Panduan pertanyaan dalam diri guru untuk melaksanakan adalah untuk pelajaran ini, cara apa yang paling sesuai untuk merayakannya? Bagaimana anda dapat mengakui setiap orang atas prestasi mereka? Strategi yang dapat digunakan adalah dengan pujian bernyanyi bersama, pesta kelas, memberikan reward berupa tepukan.
www.asikbelajar.com model pembelajaran

Model Kumon dan Hibrid

asik belajar dot com.  Kali ini kita memuat dua model pembelajaran, yaitu model pembelajaran Kumon dan Hibrid. Silakan ringkasan singkat di bawah ini.... 

A. Model Pembelajaran Kumon
Pembelajaran dengan mengaitkan antar konsep, ketrampilan, kerja individual, dan menjaga suasana nyaman-menyenangkan.

Sintaksnya adalah:
  1. Sajian konsep,
  2. Latihan,
  3. Tiap siswa selesai tugas langsung diperiksa-dinilai,
  4. Jika keliru langsung dikembalikan untuk diperbaiki dan diperiksa lagi,
  5. Lima kali salah guru membimbing.
B. Model Pembelajaran Hibrid
Pembelajaran model hibrid merupakan pendekatan pembelajaran matematika yang bersifat metodologi dikembangkan oleh Guillermo dan kawan – kawan pada tahun 1999 di Universitas Tecnica Federico Santa Maria Valpariso Chili.

Pembelajaran   ini   menggabungkan   beberapa   metode   pembelajaran.
Pembelajaran model hibrid dibagi menjadi tiga tipe yaitu :
  • Traditional Classes – Real Workshop (TC – RW).
  • Traditional Classes – Virtual Workshop (TC – VW).
  • Traditional Classes – Real Workshop – Virtual Workshop (TC – RW – VW)
Sehingga dapat dikatakan bahwa Model hibrid adalah gabungan dari beberapa metode yang berkenaan dengan cara siswa mengadopsi konsep.
Sintaknya:
1. Pembelajaran ekspositori,
2. Koperatif-inkuiri-solusi-workshop,
3. Virtual workshop menggunakan computer-internet.
www.asikbelajar.com model pembelajaran

Talking Stick dan Snowball Throwing

Model Pembelajaran Talking stick dan Model Pembelajaran Snowball Throwing adalah sama-sama keduanya termasuk suatu tipe Model pembelajaran kooperatif .

A. Talking Stick
Model pembelajaran ini dilakukan dengan bantuan tongkat, siapa yang memegang tongkat wajib menjawab pertanyaan dari guru setelah siswa mempelajari materi pokoknya. Pembelajaran Talking Stick sangat cocok diterapkan bagi siswa SD, SMP, dan SMA/SMK. Selain untuk melatih berbicara, pembelajaran ini akan menciptakan suasana yang menyenangkan dan membuat siswa aktif.

Langkah-langkah penerapannya dapat dilakukan sebagai berikut:
  1. Guru membentuk kelompok yang terdiri atas 5 orang.
  2. Guru menyiapkan sebuah tongkat yang panjangnya 20 cm.
  3. Guru menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari, kemudian memberikan kesempatan para kelompok untuk membaca dan mempelajari materi pelajaran.
  4. Siswa berdiskusi membahas masalah yang terdapat di dalam wacana.
  5. Setelah kelompok selesai membaca materi pelajaran dan mempelajari isinya, guru mempersilahkan anggota kelompok untuk menutup isi bacaan.
  6. Guru mengambil tongkat dan memberikan kepada salah satu anggota kelompok, setelah itu guru memberi pertanyaan dan anggota kelompok yang memegang tongkat tersebut harus menjawabnya, demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa mendapat bagian untuk menjawab setiap pertanyaan dari guru.
  7. Siswa lain boleh membantu menjawab pertanyaan jika anggota kelompoknya tidak bisa menjawab pertanyaan.
  8. Guru memberikan kesimpulan.
  9. Guru melakukan evaluasi/penilaian, baik secara kelompok maupun individu.
  10. Guru menutup pembelajaran.
B.  Snowball Throwing
Model pembelajaran ini menggali potensi kepemimpinan murid dalam kelompok dan keterampilan membuat-menjawab pertanyaan yang di padukan melalui permainan imajinatif membentuk dan melempar bola salju (Komalasari: 2010)

Langkah-langkah Model Pembelajaran Snowball Throwing sebagai berikut
  1. Guru menyampaikan materi yang akan disajikan
  2. Guru membentuk kelompok-kelompok dan memanggil masing-masing ketua kelompok untuk memberikan penjelasan tentang materi
  3. Masing-masing ketua kelompok kembali ke kelompoknya masing-masing, kemudian menjelaskan materi yang disampaikan oleh guru kepada temannya
  4. Kemudian masing-masing siswa diberikan satu lembar kertas kerja, untuk menuliskan satu pertanyaan apa saja yang menyangkut materi yang sudah dijelaskan oleh ketua kelompok
  5. Kemudian kertas tersebut dibuat seperti bola dan dilempar dari satu siswa ke siswa yang lain selama ± 15 menit
  6. Setelah siswa dapat satu bola/satu pertanyaan diberikan kesempatan kepada siswa untuk menjawab pertanyaan yang tertulis dalam kertas berbentuk bola tersebut secara bergantian
  7. Evaluasi
  8. Penutup
(Diolah dari berbagai sumber)
www.asikbelajar.com model pembelajaran